Senin, 16 Oktober 2017

AYAT-AYAT SAJDAH




A.    Ayat-Ayat Sajadah Dalam Al-Qur’an
Ayat-ayat sajadah di dalam Al-Qur’an ada 15. Hal ini telah diriwayatkan dari hadits marfu’ tetapi dhai’f. Dari Amru bin ‘Ash:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْرَأَهُ خَمْسَ عَشْرَةَ سَجْدَةً فِي الْقُرْآنِ،
 مِنْهَا ثَلَاثٌ فِي الْمُفَصَّلِ، وَفِي سُورَةِ الْحَجِّ سَجْدَتَانِ
“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membaca lima belas ayat sajadah di dalam Al-Qur’an, di antaranya ada tigabelas ayat dalam surat Mufashal dan dua ayat dalam surat Al-Hajj.”  
10 diantaranya disepakati dan 4 masih dipersilisihkan, terdapat hadits shahih yang menjelaskan hal ini. Sedangkan 1 tidak ada riwayat shahih yang marfu’, tetapi sebagian sahabat melakukan sujud ketika membacanya, sehingga perbuatan sahabat ini dijadikan alasan disyariatkannya sujud pada ayat tersebut.
1.      Sepuluh Ayat Yang Disepakati Sebagai Ayat Sajadah 
a.         Al-A’raf: 206
إِنَّ الَّذِينَ عِندَ رَبِّكَ لاَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيُسَبِّحُونَهُ وَلَهُ يَسْجُدُونَ
“Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan mereka mentasbihkan-Nya dan Hanya kepada-Nya-lah mereka bersujud” 
b.        Ar-Ra’d: 15
وَللَّهِ يَسْجُدُ مَن فِى السَّمَاوَاتِ وَالاَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَظِلَالُهُم بِالْغُدُوِّ وَالاَصَالِ
“Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari”  
c.         An-Nahl: 49
وَلِلّهِ يَسْجُدُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مِن دَآبَّةٍ وَالْمَلآئِكَةُ وَهُمْ لاَ
 يَسْتَكْبِرُونَ
“Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para ma]aikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri.
Dan diceritakan bahwa Umar radhiallahu ‘anhu membacanya diatas mimbar pada hari Jum’at, kemudian membungkuk melakukan sujud.
d.      Al-Isra’: 107
اِنَّ الَّذِينَ أُوتُواْ الْعِلْمَ مِن قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلأَذْقَانِ
“Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud.
e.       Maryam: 58
إذَا تُتْلَى عَلَيْهِم آياتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجّداً وَبُكِيّا
“Apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, Maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” 
f.       Al-Hajj: 18
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الأرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ
 وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِّنَ النَّاسِ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ
الْعَذَابُ وَمَن يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِن مُّكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاء
“Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan siapa yang dihinakan Allah Maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang dia kehendaki”
g.        Al-Furqan: 60
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اسْجُدُوا لِلرَّحْمَنِ قَالُوا وَمَا الرَّحْمَنُ أَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَا وَزَادَهُمْ نُفُورًا
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Sujudlah kamu sekalian kepada yang Maha Penyayang”, mereka menjawab, “Siapakah Yang Maha Penyayang itu? apakah kami akan sujud kepada Tuhan yang kamu perintahkan kami (bersujud kepada-Nya)?” Dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman). 
h.      An-Naml: 25
أَلَّا يَسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي يُخْرِجُ الْخَبْءَ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُخْفُونَ
 وَمَا تُعْلِنُونَ
“Agar mereka tidak menyembah Allah yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi, dan Yang Mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan.
i.        As-Sajadah: 15
إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآياتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّداً وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ
 لا يَسْتَكْبِرُونَ
“Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan mereka tidaklah sombong.” 
j.        Fushshilat: 37
وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلا لِلْقَمَرِ
 وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam dan siang, matahari dan bulan. janganlah kalian sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.
2.      Empat Ayat Sajadah Yang Diperselisihkan, Namun Dalilnya Shahih
a.         Shad: 24:
وَظَنَّ دَاوُودُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعاً وَأَنَابَ
“Dan Daud mengetahui bahwa kami mengujinya; Maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat.” 
 ( ص ) لَيْسَتْ مِنْ عَزَائِمِ اَلسُّجُودِ , وَقَدْ رَأَيْتُ  اَلنبيَّ  صلى الله عليه وسلم  يَسْجُدُ فِيهَا
Pada surat Shad tidak ada kewajiban untuk sujud tilawah, namun aku melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sujud ketika membacanya.” (H.R Ibnu Abbas r.a)
b.        An-Najm: 62
فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا 
“Maka bersujudlah kepada Allah Subhanahu wata’ala dan sembahlah (Dia)”
أَنَّهُ قَرَأَ سُورَةَ النَّجْمِ فَسَجَدَ ، وَمَا بَقِىَ أَحَدٌ مِنَ الْقَوْمِ إِلاَّ سَجَدَ
“Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam membaca Surat an-Najm kemudian belau sujud, tidak ada satu orang pun dari kaum kecuali semuanya ikut sujud” (H.R Ibnu Masu’d r.a)
c.       Al-Insyiqaq: 20-21
فَمَا لَهُمْ لاَ يُؤْمِنُونَ  وَإِذَا قُرِىءَ عَلَيْهِمُ الْقُرْءَانُ لاَ يَسْجُدُونَ
“Lantas mengapa mereka tidak mau beriman – Dan apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud.”
 سَجَدْتُ بِهَا خَلْفَ أَبِي الْقَاسِمِ صلى الله عليه وسلم ، فَلا أَزَالُ أَسْجُدُ بِهَا حَتَّى أَلْقَاهُ
“Aku bersujud di belakang Abu Qasim (Rasulullah), Dan aku terus melakukannya (sujud) hingga nanti aku menemui Rasulullah (wafat)” (H.R Abu Hurairah r.a)
d.      Al-‘Alaq: 19
كَلاَّ لاَ تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ
Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah serta dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan”. 
3.      Ayat Sajadah Yang Diperselisihkan Dan Tidak Ada Hadits Yang Shahih
a.       Surat: Al-Hajj: 77
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.”  
Menurut Imam Syafi’i dan Imam Ahmad ayat ini termasuk ayat sajadah yang disunnahkan untuk sujud, dengan dalil hadist Uqbah bin Amir radhiallahu ‘anhuma ia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
أَفِي الحَجِّ سَجْدَتَانِ؟ قَالَ: “نَعَمْ, وَمَنْ لَمْ يَسْجُدْهَا فَلاَ يَقْرَأْهَا
“Apakah dalam Surat al-Hajj terdapat dua sujud tilawah?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Ya, dan siapa yang tidak ingin sujud, agar tidak membacanya
Hadist ini dha’if. Namun beberapa sahabat berpendapat bahwa ayat ini termasuk ayat sajadah. Di antara sahabat yang mengatakannya adalah Umar bin Khattab, Ali, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Ibnu Masu’d, Abu Musa, Abu Darda’, dan ‘Ammar bin Yasir. Begitu juga dengan Abu Abdurrahman as-Silmi, Abu ‘Aliyah dan Zar bin Jaisy. Ibnu Qudamah berkata, “Setahu kami belum ada yang menentang pendapat mereka selama masa sahabat tersebut”.
















REFERENSI

 Al-Qur`an Surat: Al-A’raf: 206
Al-Qur`an Surat: Ar-Ra’d: 15
Al-Qur`an Surat: An-Nahl: 49
 Al-Qur`an Surat: Al-Isra’: 107
 Al-Qur`an Surat: Maryam: 58
 Al-Qur`an Surat: Al-Hajj: 18
 Al-Qur`an Surat: Al-Furqan: 60
 Al-Qur`an Surat: An-Naml: 25
 Al-Qur`an Surat: As-Sajadah: 15
 Al-Qur`an Surat: Fushshilat: 37
 Al-Qur`an Surat: Shad: 24
Al-Qur`an Surat:Al-Ana’m: 84
Al-Qur`an Surat: An-Najm: 62
Al-Qur`an Surat: Al-‘Alaq:19
Al-Qur`an Surat: Al-Hajj: 77

MAKALAH TASAWUF_Problematika Masyarakat Modern Dan Perlunya Akhlak Tasawuf Dalam Masyarakat Modern



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Revolusi teknologi dengan meningkatkan kontrol kita pada materi, ruang, dan waktu, menimbulkan evolusi ekonomi, gaya hidup, pola pikir dan sistem rujukan. Dalam kaitan ini kelompok yang optiis, pesimis dan pertentangan keduanya.
Bagi kelompok yang optimis kehadiran revousi teknologi justru menguntungkan, sementara bagi kelompok yang pesimis memandang kemajuan dibidang teknologi akan memberikan dampak yang negatif karena hanya memberikan kesempatan dan peluang kepada orang-orang yang dapat bersaing saja, yaitu mereka yang memiliki kekuasaan ekonomi, kesempatan, kecerdasan.
Disinilah pentingnya akhlak tasawuf guna membendung ekses negatif dan perkembangan zaman dan modrenisasi tersebut. Dari sikap mental yang demikian itu kehadiran ilmu pengetahuan dan teknologi telah melahirkan sejumlah problematika masyarakat modern seperti terjadinya desintegrasi ilmu pengetahuan, kepribadian yang terpecah, penyalah gunaan iptek, pendangkalan iman, pola hubungan materialistik, menghalalkan segala cara, stress, frustasi dan kehilangan harga diri dan masa depan.

B.     Rumusan Masalah
1.         Apa pengertian masyarakat modern?
2.         Apa problematika yang terjadi pada masyarakat modern?
3.         Bagaimana perlunya Akhlak tasawuf dalam masyarakat modern?

C.    Tujuan Makalah
1.         Mengetahui pengertian masyarakat modern.
2.         Mengetahui problematika yang terjadi pada masyarakat modern.
3.         Mengetahui pentingnya akhlak tasawuf dalam masyarakat modern.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Masyarakat Modern
Masyarakat modern terdiri dari dua kata, yaitu masyarakat dan modern. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, W.J.S. Poerwadarminta mengartikan masyarakat sebagai pergaulan hidup manusia (hipunan orang yang hidup bersama di suatu tempat dengan ikatan-ikatan aturan yang tentu). Sedangkan modern diartikan yang terbaru, secara baru, mutakhir.
Dengan demikian secara harfiah masyarakat modern berarti suatu himpunan orang yang hidup bersama di suatutempat dengan ikatan-ikatan aturan tertentu yang bersifat mutakhir. [1])
Masyarakat modern selanjutnya sering disebutkan sebagai lawan dari masyarakat tradisional. Delia Noer misalnya menyebutkan ciri-ciri modern sebagai berikut:
1.      Bersifat rasional, yakni lebih mengutamakan pendapat akal pikiran, daripada pendapat emosi.
2.      Berfikir untuk masa depan yang lebih jauh, tidak hanya memikirkan masalah yang bersifat sesaat.
3.      Menghargai waktu, yaitu selalu melihat bahwa waktu adalah sesuatu yang sangat berharga.
4.      Bersikap terbuka, yakni mau menerima saran dan masukan.
5.      Berfikir obyektif, yakni melihat segala sesuatu dari sudut fungsi dan kegunaanya bagi masyarakat.
Jadi dapat disimpulkan bahwa masyarakat modern adalah masyarakat yang sebagian besar warganya mempunyai orientasi nilai budaya yang terarah ke kehidupan dalam peradaban dunia masa kini. Masyarakat modern relatif bebas dari kekuasaan adat-istiadat lama.[2])


B.     Problematika Masyarakat Modern
Kemajuan dibidang teknologi pada zaman modern ini telah membawa manusia ke dalam dua sisi, yaitu bisa memberi nilai tambah (positif), tapi pada sisi laian dapat mengurangi (negatif). Efek positifnya tentu saja akan menigkatkan keragaman budaya melalui penyediaan informasi yang menyeluruh sehingga memberikan orang kesempatan untuk mengembangkan kecakapan-kecakapan baru dan meningkatkan produksi. Sedangkan efek negatifnya kemajuan teknologi akan berbahaya jika berada di tangan orang yang secara mental dan keyakinan agama belum siap. Mereka dapat menyalahgunakan teknologi untuk tujuan-tujuan yang destruktif dan mengkhawatirkan.[3])
Menurut Sayyed Hossein Nasr, seorang ilmuwan kenamaan dari Iran, berpandangan bahwa manusia modern dengan kemajuan teknologi dan pengetahuaannya telah tercebur kedalam lembah pemujaan terhadap pemenuhan materi semata namun tidak mampu menjawab problem kehidupan yang sedang dihadapinya. Kehidupan yang dilandasi kebaikan tidaklah bisa hanya bertumpu pada materi melainkan pada dimensi spiritual. Jika hal tersebut tidak diimbangi akibatnya jiwa pun menjadi kering, dan hampa. Semua itu adalah pengaruh dari sekularisme barat, yang manusia-manusianya mencoba hidup dengan alam yang kasat mata.
Revolusi Teknologi dengan meningkatkan kontrol terhadap materi, ruang dan waktu menimbulkan revolusi ekonomi, gaya hidup, pola pikir dan sistem rujukan. Dalam kaitannya terdapat tiga keadaan dalam menyikapi revolusi teknologi, yaitu kelompok orang yang optimis, pesimis, dan pertengahan antara keduanya.
Bagi kelompok yang optimis kehadiran revolusi teknologi justru menguntungkan, seperti yang diperlihatkan Ziauddin Sardar. Menurutnya, revolusi informasi,akan menyebabkan timbulnya desentralisasi, dan karena itu akan melahirkan suatu masyarakat yang lebih demokratis yang telah meningkatkan keragaman budaya melalui penyediaan informasi yang menyeluruh sesuai dengan keragaman selera dan kemampuan ekonomi untuk menciptakan kemakmuran seluruh lapisan masyarakat.
Sementara bagi kelompok yang pesimis memandang kemajuan teknologi akan memberikan dampak yang negatif. Sebagai contoh, lapangan kerja yang selama ini banyak menyerap tenaga kerja, telah mulai ditangani oleh teknologi yang hemat tenaga kerja, akibatnya terjadilah pengangguran.Teknologi juga akan berbahaya jika berada ditanagan orang yang secara mental dan keyakinan agama belum siap. Mereka dapat menyalahgunakan teknologi untuk tujuan-tujuan yang destruktif dan mengkhawatirkan. Selanjutnya kemajuan dibidang teknologi rekayasa genetika, melalui apa yang disebut dengan bayi tabung, dapat mendorong manusia memproduksi manusia untuk dijualbelikan sebagaimana menjual buah-buahan, atau binatang.
Bagi kelompok yang mengambil sikap antara optimis dan pesimis terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) mengatakan, bahwa iptek itu positif atau membahayakan pada pengangguran, inflasi dan pertumbuhan, tergantung pada cara orang mengelolanya, tanpa harus ditangguhkan, dan demi kepentingan kerja sama dan perdamain.[4])
Dalam berbagai kemajuan teknologi masyarakat modern juga mengalami berbagai problematika antaralain :
1.      Semua kemajuan teknologi menuntut pengorbanan, yakni dari satu sisi teknologi memberi nilai tambah, tapi pada sisi lain dapat mengurangi
2.      Nilai-nilai manusia yang tradisional, misalnya harus dikorbankan demi efisiensi.
3.      Semua kemajuan teknologi lebih banyak menimbulkan masalah ketimbang memecahkannya.
4.      Efek negatif teknologi tidak dapat dipisahkan dari efek positifnya. Teknologi tidak pernah netral. Efek negatif dan positif terjadi serentak dan tidak terpisahkan
5.      Semua penemuan teknologi mempunyai efek yang tidak terduga.
Penggunaan iptek modern yang demikian itu masih lebih banyak dikendalikan oleh orang-orang yang secara moral kurang dapat dipertanggungjawabkan. Sikap hidup yang mengutamakan materi (materialistic), memperturutkan kesenangan dan kelezatan syahwat (hedonistic), ingin menguasai semua aspek kehidupan (totaliteristic), hanya percaya pada rumus-rumus pengetahuan empiris saja, serta paham hidup positivistis yang bertumpu pada kemampuan akal pikiran manusia yang lebih menguasai manusia yang memegang ilmu dan teknologi. Ditangan mereka yang berjiwa dan bermental demikian itu, ilmu pengetahuan dan teknologi modern memang sangat mengkhawatirkan. Mereka akan menjadi penyebab kerusakan di daratan dan di lautan sebagaimana yang diisyaratkan Al-Qur’an (QS. Al-Rum, 30 : 41).
 Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.(QS. Al-Rum, 30 : 41) [5])
Sedangkan ditinjau dari sikap mental kehadiran ilmu pengetahuan dan teknologi telah melahirkan sejumlah problematika masyarakat modern antara lain sebagai berikut:
1.         Deseintegrasi Ilmu Pengetahuan
Banyak ilmu yang berjalan sendiri-sendiri tanpa ada tali pengikat dan penunjuk jalan yang menguasai semuanya, sehingga kian jauhnya manusia dari pengetahuan akan kesatuan alam.
Kehidupan modern antara lain ditandai dengan adanya spesialisasi di bidang ilmu pengetahuan. Masing-masing ilmu pengetahuan memiliki paradigma (cara pandangnya) sendiri dalam memecahkan masalah yang dihadapi.
2.      Kepribadian yang terpecah (split personality)
Karena kehidupan manusia modern dipolakan oleh ilmu pengetahuan yang coraknya kering nilai-nilai spiritual dan terkotak-kotak, maka manusianya menjadi pribadi yang terpecah, akibatnya kini tengah menggelinding proses hilangnya kekayaan rohaniah karena jauhnya dari ajaran agama. karena dibiarkannya perluasan ilmu-ilmu positif (ilmu yang hanya mengandalkan fakta-fakta empirik, obyektif, rasional, dan terbatas).
3.      Penyalagunaan Iptek
Sebagai akibat dari terlepasnya ilmu pengetahuan dan teknologi dari ikatan spritual, maka iptek telah disalah gunakan dengan segala implikasi negatifnya, sebagaimana disebutkan di atas. Kemampuan membuat senjata telah diarahkan untuk tujuan penjajahan satu bangsa atau bangsa subversi dan lain sebagainya.
4.      Pendangkalan Iman
Sebagai akibat lain dari pola pikiran keilmuan tersebut di atas, khususnya ilmu-ilmu yang hanya mengakui fakta-fakta yang bersifat empiris menyebabkan manusia dangkal imannya, ia tidak tersentuh oleh informasi yang diberikan oleh wahyu, bahkan informasi yang di bawa oleh wahyu itu menjadi bahan tertawaan dan dianggap sebagai tidak ilmiah dan kampungan.
5.      Pola hubungan materalistik
Pola hubungan satu dengan hubungan yang lainnya dapat memberikan keuntungan yang bersifat material. Demikian pula penghormatan yang diberikan seseorang atas orang lain banyak diukur oleh sejauh mana orang tersebut dapat memberikan manfaat secara material. Akibatnya ia menempatkan pertimbangan material di atas pertimbngan akal sehat, hati nurani, kemanusian dan imannya. [6])
6.      Menghalalkan Segala Cara
Sebagai akibat lebih jauh dari dangkalanya iman dan pola hidup materialistik sebagaimana disebutkan di atas, maka manusia dengan mudah dapat menggunakan prinsip menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan.


7.      Stres dan Frustasi
Kehidupan modern yang demikian kompetitif menyebabkan manusia harus mengerahkan seluruh pikiran, tenaga dan kemampuannya. Manusia mengerahkan seluruh pikiran, tenaga dan kemampuannya untuk terus bekerja tanpa mengenal batas dan kepuasan. Sehingga apabila ada hal yang tidak bisa dipecahkan mereka stres dan frustasi.
8.      Kehilangan Harga diri dan Masa depannya
Mereka menghabiskan masa mudanya dengan memperturutkan hawa nafsu dan menghalalkan segala cara. Namun ada suatu saat tiba waktunya mereka tua segala tenaga, fisik, fasilitas dan kemewahan hidup sudah tidak dapat mereka lakukan, mereka merasa kehilangan harga diri dan masa depannya.[7])

C.    Perlunya Akhlak Tasawuf dalam Masyarakat
Banyak cara yang diajukan para ahli untuk mengatasi masalah tersebut, dan salah satu cara yang hampir disepakati para ahli adalah dengan cara mengembangkan kehidupan yang berakhlak dan bertasawuf. Salah satu tokoh yang begitu sungguh-sungguh memperjuangkan akhlak tasawuf  mengatasi masalah tersebut adalah Hussein Nashr. Dalam hal ini Nashr menegaskan “tarikat” atau “jalan rohani” yang biasanya dikenal sebagai tasawuf atau sufisme adalah merupakan dimensi kedalaman dan kerahasiaan (esoteric) dalam islam, sebagaimana syariat berakar pada al-qur’an dan al-sunnah. Ia menjadi jiwa risalah islam, seperti hati yang ada pada tubuh, tersembunyi jauh dari pandangan luar. Betapapun ia tetap merupakan sumber kehidupan yang aling dalam, yang mengatur seluru orgasme keagamaan dalam islam.
Namun demikian penggunaan tasawuf mengatasi sejumlah masalah moral sebagaimana tersebut di atas menghendaki adanya interpretasi baru terhadap tasawuf yang selama ini dipandang sebagai sesuatu yang menyebabkan melemahnya daya juang di kalangan umat islam. Intisari ajaran tasawuf adalah bertujuan memperoleh hubungan dan disadari dengan Tuhan, sehingga seseorang merasa dengan kesadarannya itu berada di hadirat-Nya. Karena melalui tasawuf ini seseorang disadarkan bahwa segala sumber yang ada ini berasal dari Tuhan.
Dengan adanya bantuan tasawuf ini maka ilmu pengetahuan satu dan lainnya tidak akan bertabrakan, karena berada dalam satu jalan dan tujuan. Selanjutnya tasawuf melatih manusia agar memiliki ketajaman batin dan kehalusan budi pekerti. Demikian pula tarikat yng terdapat dalam tasawuf akan membawa manusia memiliki jiwa istiqamah, jiwa yang selalu di isi denga nilai-nilai ketuhanan. Ia selalu mempunyai pegangan dalam hidupnya. Keadaan demikian menyebabkan ia tetab tabah dan tidak mudah terhempas oleh cobaan yang dihadapinya.
Selanjutnya sikap frustasi dan yang lainnya dapat diatasi dengan sikap ridla yang diajarkan dalam tasawuf, yaitu selalu pasrah dan menerima terhadap segala keputusan Tuhan. Ia menyadari bahwa yang Maha Kuasa atas segala sesuatu adalah Tuhan. Demikian pula ajaran uzlah yang terdapat dalam tasawuf, yaitu usaha mengasingkan diri dari terperangkap oleh tipu daya keduniaan, dapat pula dipergunakan untuk membekali manusia modern dari kehidupan, yang tidak tahu lagi arahnya. Tasawuf dengan konsep uzlah itu berusaha membebaskan manusia dari perangkap-perangkap kehidupan yang memperbudaknya. Ini berarti manusia tersebut tetap mengendalikan aktifitasnya ssuai dengan nilai-nilai ketuhanan,Dan bukan sebaliknys larut dalam pengaruh keduniaan.[8])
Dibalik kemajuan ilmu teknologi, dunia modern sesungguhnya menyimpan suatu potensi yang dapat menghancurkan mertabat manusia. Untuk menyelamatkanya perlu tasawuf yang wujud konkretnya dalam akhlak yang mulia. Terakhir problema masyarakat modern di ats adalah adanya sejumlah manusia yang kehilangan masa depannya. Untuk ini ajaran akhlak tasawuf yang berkenaan dengan ibadah, zikir, taubat, dan berdo’a menjadi penting adanya, sehingga tetap mempunyai harapan, yaitu bahagia bahagia hidup di akhirat nanti. Tasawuf akhlak memberi kesempatan bagi penyelamatan manusia, maka tasawuf dengan sistem yang diakui paling kuat untuk manusia dengan Tuhan, ajaran akhlak tasawuf mengatasi problematika kehidupan masyarakat modern saat ini, dan dijadikan suatu alternatif terpenting. [9])





























BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Masyarakat modern terdiri dari dua kata, yaitu masyarakat dan modern. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, W.J.S. Poerwadarminta mengartikan masyarakat sebagai pergaulan hidup manusia (hipunan orang yang hidup bersama di suatu tempat dengan ikatan-ikatan aturan yang tentu). Sedangkan modern diartikan yang terbaru, secara baru, mutakhir.
Kehadiran ilmu pengetahuan dan teknologi telah melahirkan sejumlah problematika masyarakat modern antaralain Deseintegrasi Ilmu Pengetahuan, Kepribadian yang terpecah (split personality), Penyalagunaan Iptek, Pendangkalan Iman, Pola hubungan materalistik, Menghalalkan Segala Cara, Stres dan Frustasi, Kehilangan Harga diri dan Masa depannya
Banyak cara yang diajukan para ahli untuk mengatasi masalah tersebut, dan salah satu cara yang hampir disepakati para ahli adalah dengan cara mengembangkan kehidupan yang berakhlak dan bertasawuf..
Dengan adanya bantuan tasawuf ini maka ilmu pengetahuan satu dan lainnya tidak akan bertabrakan, karena berada dalam satu jalan dan tujuan. Selanjutnya tasawuf melatih manusia agar memiliki ketajaman batin dan kehalusan budi pekerti.

B.     Kesimpulan
Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi dimasa modern ini, memberikan dan mudharat pada msyarakat. Untuk menghindari Dampak negatif dari modernisasi, sudah selayaknya kita sebagai masyarakat lebih telit dalam menerima hal-hal baru. Hal-hal baru yang bersifat baik dapat kita ambil manfaatnya dan yang bersifat buruk agar kita tinggalkan.




DAFTAR PUSTAKA

Poerdaminta, Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1991,
Nata, Abudin.  1997Akhlaq Tasawuf, Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Aceh, Abu Bakkar. 1994. Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawuf. Solo: Ramadani.
Noer, Deliar, 1987. Pembangunan di Indonesia. Jakarta: Mutiara.
Hamka, 1994.Tasawuf Perkembangan, Jakarta: Pustaka Panji Mas.
Shihab, Quraish. 1996. Wawasan al-Qur’an. Bandung: Mizan.




[1]) W.J.S.Poerdaminta, Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1991, hlm 123
[2])  Ibid., hlm 125
[3]) Abudin Nata, Akhlaq Tasawuf, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1997, hlm 279-280.
[4]) Ibid., hal 282
[5]) Abu Bakkar Aceh, Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawuf, Ramadani, Solo, 1994, hlm. 342
[6]) Deliar Noer, Pembangunan di Indonesia, Jakarta: Mutiara, 1987, hlm 24.
[7]) Hamka, Tasawuf Perkembangan, Pustaka Panji Mas, Jakarta, 1994, hal.100.
[8]) M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, Bandung: Mizan, 1996, hal 376
[9]) Ibid., hal 380